GO UP

Pavilun Indonesia yang melintasi tempat dan waktu di Venice Architecture Biennale 2018

 

 

Kekosongan di sini diartikan sebagai entitas aktif, sebuah singularitas yang berfungsi sebagai elemen terpenting dalam kehidupan ini dan di saat yang sama, sebagai ruang hampa, juga dituntut untuk  berubah. Peralihan ini mengekspresikan beragam ritual. Kekosongan juga merupakan konsep yang berakar dalam dunia arsiktektur Indonesia. Penerapan konsep ini tersebar di beragam etnis, dengan implementasi yang bervariasi. Saat diamati sebagai sesuatu yang berkembang dalam ruang dan waktu,  selalu dalam nuansa yang sama. Geometri adalah instrumen ritual primitif yang di dalamnya terdapat kekosongan, keberhasilan manusia melewati kehampaan, membentuk ruang sebagai reaksi akan chaos yang ada. Dan lantas ini menjadikannya sebuah tempat, dan ini membentuk makna mendasar tentang sebuah bangunan. Berawal dari ruang menjadi sebuah tempat.

 

                

 

Sunyata atau konsep kekosongan menggambarkan dialog antara manusia dan ruang sebagai inti dari manifestasi arsitektur. Ibarat menempatkan manusia sebagai peran utama di peralihan ruang sebagai elemen utama spasial. Desain dari Sunyata bertujuan untuk mendemonstrasikan sebuah ritual melalui provokasi konkret  antara cita rasa manusia dan ruang. Selain itu juga menggambarkan sebuah perjalanan masa kini dan manifestasi Sunyata di berbagai tempat dan (mungkin) waktu, dari masa lalu ke masa kini dengan perbendaharaan arsitektur Indonesia.

               

Proyek ini memaparkan konsep ‘Kekosongan’ yang diterapkan di Indonesia sebagai pendekatan untuk membebaskan pengalaman ruang dan kekonkretan dari pemusatan visual dan dominasi material. Sebuah ‘Freespace’ untuk interpretasi dan imajinasi,  Sunyata sebuah proyek eksprimental yang bertujuan untuk memprovokasi kemungkinan-kemungkinan baru dalam pemahaman  arsitektur di Indonesia.

               

Ini merupakan kali kedua Indonesia berpartisipasi dalam Venice Architecture Biennale setelah yang pertama di tahun 2014, diwakili oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), dan tim kurator yang terdiri dari enam orang dari berbagai latar belakang di bidang arsitektur: praktisi, kalangan teoritis, dan spesialis teknologi (Ary Indrajanto, David Hutama, Adwitya Dimas Satria, Ardy Hartono, Jonathan Aditya Gahari, Johanes Adika Gahari). Paviliun yang sebagian besar dibuat dari kertas, akan membentuk sebuah ruang netral yang dapat memuat banyak koneksi dan konsistensi sebagai wadah yang menghubungkan ruang ‘Kekosongan’ tersebut. Bagaikan menciptakan kembali sebuah ruang baru dengan kondisi yang sama, paviliun ini terhubung melintasi tempat dan waktu, antara Tamansari dan Venice, Museum Tsunami dan Arsenale, dan berbagai tempat terpilih lainnya di Indonesia. Ini sebuah proyek eksperimental;  sebuah interaksi proporsi skala dan kekonkretan yang menghubungkan interaksi antara pameran dan audiens.

 

Ary Indra sebagai ketua tim kurator
 
teks FIVI ANJARINI sumber INDONESIAPAVILION.ORG, LABIENNALE.ORG foto FRANCESCO GALLI/DOK. LA BIENNALE DI VENEZIA