GO UP

House Tour: Past in Present

+

Furnitur daur ulang dan fitur orisinal hunian memberi cita rasa baru rumah bergaya Art Deco dan kolonial ini.

 


Rumah ini berisi furnitur karya desainer ternama, seperti kursi makan kuning Masters karya Philippe Starcks dan juga lampu besar dari Kartell.

 

Sebagai nyonya rumah yang menyukai gaya kolonial dan barang daur ulang, membeli rumah tahun 1970-an dengan elemen desain yang kuat tentu membuatnya senang. Ini memang fitur aslinya, lampu dan area tangga, terlihat sempurna untuk keluarga yang memiliki pemikiran: interpretasi gaya kolonial dan Art Deco. 

“Hampir semua furnitur di rumah ini berasal dari rumah sebelumnya, memberikan atmosfer lebih hidup dan familiar. Saya tersanjung karena Alex Kwan dari Museum Home mengapresiasi pilihan saya pada barang daur ulang,” ujarnya.

Renovasi menghabiskan sekitar 7,2 miliar rupiah, dan hasil akhirnya megah. Mereka mengembangkan kondisi rumah bergaya Art Deco ini dengan menggunakan banyak tampilan gelap, sehingga pencahayaan hunian tampak sempurna. Keadaan orisinal rumah dengan jendela setengah dan plafon yang rendah menciptakan atmosfer yang gelap dan tertutup–seperti terkungkung.

Untuk menciptakan ruang yang terang dan lapang, atap-atap dibongkar dan dipasang jendela berbingkai baja penuh, sebagaimana juga di bagian pintu. Lantai marmer putih di ruang keluarga juga membuat sinar matahari semakin terang, menciptakan keanggunan.

 


Jendela lebar (awalnya area teras bagian garasi) dan lampu dinding sudah menjadi bagian rumah ini sebelum pemilik rumah pindah ke sini.

 


Jendela lebar didesain agar kakek-nenek yang tinggal di rumah ini dapat menikmati pemandangan di luar

 


Pemilik rumah mengatakan ia menyukai kerajinan baja Museum Home, jadi Alex Mengaplikasikan bingkai baja pada pintu kaca di dapur dan jendela.

 


Pegangan dari kuningan merupakan cirri khas gaya Art Deco.

 


Kamar mandi yang luas terdapat bench dan sebuah pintu masuk yang lapang; didesain seperti ini dengan pertimbangan untuk memudahkan lansia yang tinggal di rumah ini.

 


Ruang rias, terletak di dekat area tangga, menggunakan marmer hitam yang dibuat sama dengan meja makan.

 

 


Tangga spiral (satu juga ada di kamar tidur) dan chandelier kaca menambah suasana kolonial.

 


Kedua area foyer dan kamar tidur utama menghadirkan ubin mozaik yang polanya didesain oleh Museum Homes.

 


Kamar mandi kayu dan bernuansa putih ini berbeda dengan atmosfer gelap dan mewah di lantai satu, tapi pemilik rumah menyukai perubahan ini.

 

 


Kamar tidur tetap simpel dengan kayu berwarna muda dan sedikit perabotan.

 


Walk-in wardrobe yang memiliki handle vintage dan pintu gudang memisahkan kamar mandi dan kamar tidur.

 

 

teks ELIZA HAMIZAH alih bahasa FIVI ANJARINI fotografi VERNON WONG art direction NONIE CHEN